Menjadi film dengan ekspektasi tinggi Film Pelangi di Mars memang jadi pilihan film lebaran yang tepat ditonton bersama keluarga saat lebaran. Film yang digarap selama 5 tahun ini disutradarai oleh Upie Guava. Film Pelangi di Mars menjadi film anak bangsa yang dikerjakan oleh sekitar 500 orang crew dan animator.
Meski secara visual Pelangi di Mars patut diapresiasi tetapi kerikil kecil dari segi cerita tetap menjadi bahasan yang banyak mendapatkan sorotan. Bagi saya penulis yang mengganggu adalah alur yang tidak konsisten. Kalau bahasanya room writer ceritanya "gak ajeg" alias gak kokoh dari awal. Serta pemilihan dialog yang beberapa kali gak tepat jika diposisikan berasa fi tahun 2100an. Detail-detail kecil namun krusial ni membuat fokus cerita jadi terasa terganggu.
Reaksi penonton barangkali akan terbagi 2, film ini memang memuaskan bagi anak-anak karena visualisasi nya yang megah dan futuristik. Robot, petualangan dan warna - warni khas imajinasi anak-anak. Tetapi bagi orang dewasa dan penikmat film harapan tentu jauh lebih tinggi dari hanya sekedar menonton visual semata.
Sayang sekali rasanya jika animasi semewah dengan pengerjaan secanggih itu dikawinkan dengan eksekusi cerita yang belum matang. Pada akhirnya kesan film ini dipaksakan selesai demi mengejar timing musim libur lebaran tak bisa dielakkan. Meki demikian, salah satu yang baiknya adalah saya tidak mengantuk menonton film ini.








Post a Comment
Post a Comment