Sudah lama rasanya tidak menonton film Indonesia yang meninggalkan ruang hening setelah lampu bioskop menyala. Itulah yang saya rasakan usai menyaksikan Tanah Runtuh di Botanica Bandung. Sepulang acara dengan teh efi teman nobar sejati saya melipir ke XXI buat nonton. Masih random nyari film apa yang mau ditonton akhirnya jatuh ke film ini.
Awalnya underestimate karena latar belakang film ini terasa berbau politik dengan mengangkat salah satu tragedi berdarah di negeri jni. Tetapi 10 menit duduk di depan big screen saya mulai menikmati setiap scene sang aktor kawakan Vino G Bastian.
Film ini bukan tontonan yang mengejar ledakan aksi atau drama berlebihan. Sebaliknya, ia memilih bercerita dengan tenang, tetapi mampu menghantam emosi penonton. Disutradarai Rudi Soedjarwo, film ini diproduksi oleh Denny Siregar Production dan resmi tayang di bioskop Indonesia pada 25 Juni 2026. Berdurasi 113 menit, Tanah Runtuh menghadirkan deretan pemain seperti Vino G. Bastian, Sigi Wimala, Yoan Cocohamida, Ridho Khaliq, Jenda Munthe, Jerry Likumahwa, hingga Tike Priatnakusumah.
Film ini memang mengangkat sisi kemanusiaan dari tragedi konflik Poso yang pernah mengguncang Sulawesi Tengah pada awal tahun 2000-an. Tetapi bertutur tenang tentang bagaimana keluarga bisa saling memberikan kekuatan diluar nalar bahkan saat dalam situasi tergila sekalipun.
Ceritanya mengikuti perjalanan Idham, seorang anggota polisi yang ditugaskan ke Poso saat konflik antarkelompok sedang memanas. Di tengah penugasannya, ia bertemu dua kakak beradik, Kai dan Ringgo, yang terpisah dari ibu mereka ketika kerusuhan pecah.
Ringgo bukan anak biasa. Ia adalah anak dengan Down syndrome. Kehadirannya justru menjadi jantung emosi film ini. Kepolosannya menghadirkan sudut pandang yang berbeda terhadap kebencian dan kekerasan yang sedang terjadi.
Melihat akting Sigi Wimala berperan menjadi ibu mereka rasanya hangat dan begitu kuat. Seorang ibu memang memiliki kekuatan yang tak terbendung jika berkaitan soal anak. Dia mempertontonkan bagaimana kekuatan tak terbatas seorang Ibu belajar yang berjuang demi bertemu kembali dengan anak-anaknya. Memiliki anak berkebutuhan khusus terpisah ditengah konflik berdarah rasanya ini hal paling mengerikan bagi setiap ibu. Satu nilai parenting yang sempurna disuguhkan di film ini adalah bagaimana mengajarkan anak menjadi tumpuan satu sama lain dengan penuh tanggung jawab dan jelas kasih.
Idham kemudian berjanji akan membantu kedua anak itu menemukan ibu mereka. Namun perjalanan tersebut berubah menjadi misi penyelamatan yang penuh bahaya. Mereka harus melewati wilayah konflik, pengungsian, hingga menghadapi kelompok bersenjata yang membuat setiap langkah terasa mencekam.
Yang menarik, Tanah Runtuh tidak mencoba menjadikan konflik agama sebagai tontonan sensasional. Film ini lebih banyak berbicara tentang manusia. Tentang keluarga yang tercerai-berai. Tentang anak-anak yang kehilangan rasa aman. Dan tentang seseorang yang memilih tetap memegang nurani di tengah situasi yang serba kacau.
Chemistry Vino dengan dua pemeran anak juga menjadi kekuatan utama film ini. Hubungan mereka berkembang secara perlahan hingga terasa seperti keluarga kecil yang dipersatukan oleh keadaan. Banyak momen sederhana yang justru lebih menyentuh dibanding adegan aksi.
Ridho Khaliq sebagai Ringgo juga layak mendapat apresiasi khusus. Karakternya tidak pernah diposisikan sebagai pelengkap cerita atau sekadar pemancing simpati. Ringgo hadir sebagai sosok penting yang mengajarkan tentang ketulusan, keberanian, dan kasih sayang tanpa syarat. Pendekatan ini membuat film terasa jauh lebih tulus.
Dari sisi visual, Rudi Soedjarwo berhasil membangun atmosfer yang membuat penonton ikut merasakan ketegangan wilayah konflik. Kamera bergerak dinamis, beberapa adegan dibuat seolah-olah kita ikut berada di tengah kepanikan warga. Tidak banyak efek berlebihan, tetapi justru itulah yang membuat film terasa realistis.
Meski berlatar tragedi Poso, Tanah Runtuh bukan film yang mengajak penonton memihak kelompok tertentu. Film ini lebih mengingatkan bahwa konflik yang dipicu oleh segelintir orang selalu menyisakan penderitaan bagi masyarakat yang tidak bersalah. Anak-anak menjadi korban terbesar. Mereka kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa kecilnya.
Ada beberapa adegan yang cukup emosional tanpa perlu dialog panjang. Tatapan para pemain, suasana sunyi, dan musik karya Andi Rianto mampu menyampaikan rasa kehilangan dengan efektif. Film ini juga berhasil menjaga ritme sehingga durasi hampir dua jam tidak terasa melelahkan.
Keluar dari studio bioskop, saya justru lebih banyak diam. Bukan karena filmnya berat, tetapi karena pesannya masih terus terngiang. Tanah Runtuh mengingatkan bahwa di tengah perbedaan, kemanusiaan seharusnya selalu menjadi titik temu.
Maha Dahsyat Vino G Bastian Kembali Ke Setelan Awal
Ini adalah momen kembalinya Vino ke "setelan awal" sebagai seorang aktor sejati. Karakter yang diperankannya maha dahsyat, dengan intensitas emosional yang terasa begitu dalam dan tajam. Bagi penggemar Vino G. Bastian, ini menjadi salah satu penampilan terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir.
Vino memerankan Idham dengan sangat natural. Ia tidak tampil sebagai polisi yang selalu heroik. Justru karakter Idham terasa manusiawi. Ia takut, ragu, marah, tetapi tetap memilih melakukan hal yang benar. Di Film ini ia menyuguhkan akting yang solid sehingga cerita menjadi menyentuh, dan pesan yang relevan tanpa terasa menggurui.
Hebatnya, film ini mampu dinikmati secara utuh tanpa menyudutkan salah satu pihak dan tanpa mengangkat isu rasisme secara sensitif. Sebuah karya yang jujur, berani, dan wajib ditonton! 🇮🇩Sebuah film yang menyentuh hati, mengambil sudut pandang yang proporsional dan juga rasional dengan semestanya tragedi Poso. Tanah Runtuh hadir sebagai suguhan layar lebar yang bisa dinikmati secara objektif, tanpa menyudutkan salah satu pihak, dan tanpa mengangkat isu rasisme dengan sensitif.
Film ini juga menjadi ajang comeback seorang Vino G. Bastian dengan karakter maha dahsyat yang ia perankan. Ia kembali ke setelan awal menjadi seorang aktor yang intensitas emosionalnya terasa begitu dalam dan tajam.
Penutup
Film Tanah Runtuh hadir dengan sudut pandang yang sangat proporsional dan rasional dalam memotret semesta tragedi Poso. Menjadi sebuah film yang tricky, namun sutradara Rudy Soedjarwo mampu mengeksekusi dan menyelesaikannya dengan sangat layak—baik untuk kita sebagai pengembang film, maupun masyarakat Indonesia yang ingin memahami sejarah tragedi tersebut tanpa bumbu provokasi.
Sejujurnya ini adalah film yang sangat tricky. Tapi kemudian, Rudy Soedjarwo mampu menyelesaikan dan mengeksekusi film ini dengan sangat layak untuk ditonton oleh kita—baik sebagai pengembang film, maupun sebagai masyarakat Indonesia yang mungkin ketika itu belum tahu detail tragedi tersebut.
Apresiasi tinggi untuk seluruh kru dan jajaran cast yang terlibat! Rating: 9/10. Sebuah drama kemanusiaan yang berhasil mengajak penonton memahami bahwa harapan masih bisa tumbuh, bahkan di tempat yang nyaris kehilangan segalanya.
#TanahRuntuh #VinoGBastian #RudySoedjarwo #FilmIndonesia #ReviewFilm #BanggaFilmIndonesia








Post a Comment
Post a Comment