rafahlevi.com

Toy Story 5 Ceritakan Multi POV Ketika Dunia Mainan Harus Bersaing Dengan Gadget

 

Libur sekolah selalu punya tradisi tersendiri di keluarga kami. Salah satunya adalah mengajak anak-anak menonton film di bioskop. Mungkin karena ibunya memang hobi sekali nonton, agenda ini hampir selalu masuk daftar wajib setiap musim liburan. Bukan apa-ala jatah liburan diisi perjalanan cuman setahun sekali karena personilnya lumayan. Kalau baca blognya Kak Heny seorang Book Reviewer ada tuh tips liburan gak bocos biar traveling liburan jadi makin seru, emang idealnya kita pesen tiket jauh-jauh hari biar bisa dapet promo tapi kadang jadwal bagi raportnya itu loh yang suka gak pas.

Kebetulan tahun ini waktunya pas dengan perilisan Toy Story 5, jadi kami berangkat ramai-ramai ke bioskop di Braga. Yang membuat pengalaman kali ini semakin seru, kami tidak hanya datang bertiga sebagai keluarga, tetapi juga bersama satu rombongan tim roster basket anak-anak. Suasana bioskop pun terasa lebih meriah karena dipenuhi tawa dan antusiasme mereka.

Disutradarai oleh Andrew Stanton bersama ko-sutradara Kenna Harris, Toy Story 5 diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan didistribusikan oleh Walt Disney Studios Motion Pictures. Film berdurasi 1 jam 42 menit ini mulai tayang di bioskop pada 19 Juni 2026 dan kembali menghadirkan Woody, Buzz Lightyear, Jessie, serta para mainan favorit lainnya.

Berbeda dengan film-film sebelumnya, kali ini Jessie menjadi tokoh utama. Setelah Woody meninggalkan kamar Bonnie di akhir Toy Story 4, Jessie mengambil peran sebagai pemimpin para mainan. Namun tantangan yang dihadapi ternyata jauh lebih besar dari sekadar menjaga persahabatan antar mainan.

Bonnie kini tumbuh semakin besar dan mulai lebih tertarik pada sebuah tablet pintar bernama Lilypad atau Lily. Jessie berusaha keras mengembalikan perhatian Bonnie kepada dunia bermain yang selama ini penuh imajinasi. Dari sinilah petualangan tak terduga dimulai. Para mainan bukan lagi menghadapi penjahat atau ancaman fisik, melainkan perubahan zaman yang membuat keberadaan mereka perlahan terlupakan.

Inilah kekuatan terbesar Toy Story 5. Film ini tidak sekadar mengangkat konflik antara mainan dan teknologi, tetapi juga memperlihatkan perubahan cara anak-anak bermain di era digital. Gadget digambarkan bukan sebagai musuh mutlak. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi ancaman ketika mengambil alih seluruh waktu bermain anak hingga mengurangi interaksi, kreativitas, dan imajinasi. Namun di sisi lain, teknologi juga dapat membuka pengalaman baru apabila digunakan secara bijak.

Pesan tersebut terasa relevan dengan kehidupan orang tua masa kini. Tidak sedikit anak yang lebih akrab dengan layar dibandingkan permainan fisik. Toy Story 5 mengajak penonton melihat persoalan ini dari sudut pandang yang unik, yaitu melalui "perasaan" para mainan yang takut kehilangan makna keberadaan mereka.

Visual khas Pixar tetap menjadi daya tarik utama. Detail animasi terlihat semakin halus, ekspresi para karakter terasa hidup, sementara humor ringan yang disisipkan mampu membuat anak-anak tertawa tanpa menghilangkan emosi yang dinikmati penonton dewasa. Beberapa adegan bahkan cukup menyentuh karena mengingatkan bahwa setiap anak pada akhirnya akan bertumbuh dan memiliki cara bermain yang berbeda.

Jessie tampil sebagai karakter yang kuat, berani, sekaligus hangat. Ia bukan hanya berusaha menyelamatkan teman-temannya, tetapi juga ingin menjaga kenangan masa kecil Bonnie agar tidak hilang begitu saja. Kehadiran Woody dan Buzz tetap memberi warna nostalgia yang membuat penggemar lama merasa "pulang" ke dunia Toy Story.

Bagi kami, menonton Toy Story 5 bersama rombongan anak-anak menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sesekali terdengar tawa mereka memenuhi studio, lalu beberapa menit kemudian semuanya diam menikmati adegan yang emosional. Momen seperti ini justru mengingatkan bahwa menonton bersama di bioskop masih menjadi pengalaman yang sulit tergantikan oleh layar gadget di rumah.

Pada akhirnya, Toy Story 5 bukan hanya film tentang mainan. Film ini adalah refleksi mengenai masa kecil, perubahan zaman, dan tantangan orang tua dalam mendampingi anak bertumbuh di era digital. Pixar berhasil menyampaikan pesan tersebut tanpa menggurui. Mereka hanya mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi berkembang, tidak ada yang benar-benar mampu menggantikan kekuatan imajinasi, kebersamaan, dan permainan yang diciptakan langsung oleh anak-anak.

Rating: 9/10. Toy Story 5 layak menjadi tontonan keluarga selama liburan sekolah. Bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak orang tua dan anak berdiskusi tentang bagaimana menemukan keseimbangan antara dunia digital dan dunia bermain yang sesungguhnya.

Rafahlevi
Rafahlevi is a single mom of two. Owner of Eat Beelicious who loves watch and write all the m and content creator. An ambivert who loves watch and write all the time. Self improvement enthusiast. Bussiness/Collabs enquiries rafahlevi.ez@gmail.com
Newest Older

Related Posts

Post a Comment