Meski dikemas dengan genre komedi keluarga dengan mood tone yang light khas anak gen Z. Tapi film Tinggal Meninggal sarat pesan moral tentang hubungan tak sehat di keluarga sebagai penyebab terbentuknya mental yang tidak sehat seorang anak.
Beberapa hari terakhir ini di media sosial ataupun elektronik kita disuguhkan dengan berita-berita negatif bahkan memuakkan. Dari perselingkuhan berjilid-jilid hingga rup-rupa bentuk kejahatan pada anak yang bikin melas dada. Salah satunya adalah kasus Denada dan anak kandungnya Ressa.
Kasus Denada ini relate dengan film Tinggal Meninggal yang mengisahkan anak tak bisa memanggil ibunya dengan kata Mama melainkan Kak. Di dunia nyata, setelah saya menonton podcast Denny Sumargi, Ressa ini sejak usia 10 hari sudah diberikan pada tante Denada (adik alm Emmilia Contessa). Sejak SMP akhirnya Ressa mengetahui ia adalah anak Denada yang selama ini dipanggil Mbak, setelah ia mengikuti nalurinya sebagai seorang anak.
Sayangnya.. bagai punguk merindukan bulan, asa Ressa seperti mustahil. bukan dirangkul ia justru dipekerjakan sebagai supir. Sebagai anak tentu innerchild nya terluka bukan main. Bisa kita bayangkan menatap ibu kandungnya sambil berkatabdalamhati ingin memanggilnya demikianpun semesta tak mengizinkan. Hanya bisa memelas dalam diam. Dari sini saya sadar dimarahi ibu lebih baik daripada tidak diakui anak.
Kisah memilukan di dunia nyata itu begitu relate dengan konflik cerita dalam film Tinggal meninggal yang dibintangi Omara Esteghlal, film yang mengangkat set kantor creative agency ini di-direct langsung oleh Kristo Immanuel sebagai debut perdananya sebagai sutradara bersama rumah produksi Imajinari milik Ernest Prakasa.
Kini saya penasaran Kristo menyangka gak yaa ide ceritanya justru sekarang tengah terjadi di kehidupan nyata dan viral di masyarakat. Atau bahkan sebeneranya fenomena ibu dipanggil kakak ini seperti gunung es dan banyak terjadi di masyarakat. Penyebabnya pernikahan dini dan pergaulan bebas pastinya. Karena sejatinya seorang perempuan yang benar-benar menginginkan menjadi ibu tidak akan berbuat demikian.
REVIEW Tinggal Meninggal
Tinggal meninggal berkisah tentang seorang anak muda bernama Gema (Omara esteghlal) yang bekerja di sebuah perusahaan agensi kreatif. Gema memeiliki kepribadian yang introvert dan cenderung bertingkah anaeh di mata teman-teman sekantornya. Salah satunya adalah kebiasaan bicara sebdiri alias komat-kamit.
Dimana komat kamitnya Gema adalah breaking the fourth wall, yakni karakter utama (Omara Esteghlal) berbicara langsung kepada penonton.
Dari ide ceritanya film ini mengangkat tema kesehatan mental yang kerap digaungkan generasi Z sebagai mental awarness. Tema yang cukup berat ini tapi justru dieksekusi dengan sentuhan dinamika life path ala gen Z yang begitu kental. Seperti karakter flexing, fake identity, haus validasi, habbit kerja hingga cara bergaul.
Sebagai anak Gema begiru menyadari alur kehudupannya yang penuh drama. sejak kecil ia kesepian dan penuh kebohongan. Memiliki ayah seorang marketer sejati yang memframing diri dan keluarganya sebagai keluarga cemara Gema justru kehilangan momen -momen berharga dengan ayah dan ibunya. Bahkan hanya sekedar makan ayam goreng di tempat favoritnya saja Gema tidak pernah terwujud.
Keadaan makin rumit bagi mentalnya saat ayah dan ibunya memutuskan bercerai. Ibunya bergonta ganti pacar dan Gema tidak boleh memanggilnya dengan sebutan Mama tapi "Kak". Hingga dewasa Gema dipaksa terbiasa aku-kamu dengan ibunya, bahkan menamai Kak Mama di kontak handphone nya.
Kehilangan perhatian sejak dini, Gema kesulitan berbaur di lingkungan kerjanya yang justru amat dinamis. Dia seperti antara ada dan tiada, hingga satu ketika kabar ayahnya meninggal dunia membuat situasinya berubah 180 derajat.
Semua kehangatan, kebersamaan dan perhatian yang selama ini dia rindukan justru Gema terima dari teman-temannyaa justru saat ayahnya tiada. Demi mempertahankan perhatian itu ia terus bergumam dengan Gema kecil alias pikirannya sendiri dengan menciptakan ide-ide gila soal kematian bohong orang-orang terdekatnya.
Film ini memang tidak berhasil meraup jutaan penonton, tetapi meski demikian film Tinggal Meninggal justru mengantarkan sang pelakon utama Omara Esteghlal sebagai nominasi pemeran utama pria terpuji di Festival Film Bandung ke 38.
Menonton film ini kita disadarkan pada banyak pesan moral. Seperti fakta bahwa ibu adalah sebuah rumah bagi anak-anaknya. Perhatian sekecil apapun bahkan sebuah kemarahan sekalipun lebih baik dari pada penolakan. Lalu tentang rasa haus pada validasi sekitar, di film ini semua karakter memiliki sisi gelapnya masing-masing dimana semua dilakukan demi sebuah pengakuan. Dan itu adalah kepalsuan yang nyata.
Nilai moral terakhir adalah kebohongan. Setiap kali kebohongan bergulir maka akan ada kebohongan lain untuk menutupinya dan akan terus membesar seperti bola salju hingga suatu ketika menggulung kebenaran diri kita sendiri.
Tinggal Meninggal menceritakan tentang Gema (Omara Esteghlal) yang bekerja di sebuah agensi kreatif memiliki masalah dengan kepribadian dan pertemanannya di kantor. Kabar menjnggal sang ayah kemudia membuat perubahan di ljngkungan kerjanya. Hal itu begitu membekas bagi Gema hingga ia terobsesi terus mendapat perhatian dari teman-teman sekantornya lewat kabar kematian bohong, akibatnya kekacauan terjadi dan Gema berada di situasi tak terduga.
genre : komedi
Rilis : 14 Agustus 2025
Sutradara : Kristo Immanuel
Rumah Produksi : Imajinari
Durasi : 120 menit
Casts : Omara Esteghlal
Nirina Zubir
Mawar Eva de Jongh
Muhadkly Acho
Ardit Erwandha
Shindy Huang
Mario Caesar
Nada Novia
Jared Ali









"Kemarahan sekalipun lebih baik daripada penolakan"
ReplyDeleteMangkaning saya sering menyesali kemarahan pada anak-anak, hiks
Tentang komat kamit, ternyata ada ya kebiasaan itu?
Saya sering kesel ama orang yang komat kamit, tanpa memahami bahwa sebetulnya menunjukkan kesehatan mentalnya terganggu
Ini yang endingnya ngaku meninggal dan karena merasa dengan begitu ia mendapat perhatian teman dan lingkungannya ya?
ReplyDeletePR buat kita juga supaya lebih peduli kepada rekan atau tetangga sehingga tidak merasa sendirian dan akibat nya fatal
Justru film dengan topik seperti ini yg kadang bisa memberi banyak pelajaran hidup yg berharga. Saya yakin di real life, ada banyak Gema di sekitar kita.
ReplyDeleteAwalnya saya apriori dengan film ini karena judulnya rada aneh plus posternya ngeselin hahahaha. Tapi karena gak ada tontonan lain, bolak-balik scrolling Netflix, akhirnya nonton juga. Ternyata not bad karena premis ceritanya ternyata seru, lucu, dan menggemaskan. Gak kebayang ada gitu seorang lelaki dengan nasib seperti Gema yang nyatanya bisa berjuang, mandiri menghidupi dirinya sendiri. Pekerjaan bagus, teman-teman seru (meski baru on karena kabar kematian ayah Gema), dan lingkungan yang "tidak menjebloskan dia" pada hal-hal yang buruk. Meski akhirnya Gema terjebak pada kebohongannya, teman-temannya tetap menjadikan dia sebagai bagian dari pertemanan yang seru.
ReplyDeleteAdakalanya seorang merasa seperti haus validasi karena lingkungannya yang membentuknya seperti itu ya. Lewat film ini, setidaknya membuka kesadaran pentingnya punya rasa empati, terhadap lingkungan sekitar, apalagi dalam hal pertemanan
ReplyDeleteTinggal meninggal ini merupakan salah satu film yang membekas dalam ingatan ku banget. Soalnya jarang film Indonesia begitu cermat mengemas banyak isu terkait keluarga terutama dua orang tua yang serasa tidak hadir dalam setiap momen anaknya tumbuh, malah diajarkan buat ngebohong terus. Sedih, jadi Gema. Kerasa banget alesan kuat buat cari perhatian meski dengan cara yang keliru.
ReplyDeletePengingat banget, kalau peran orangtua sangat penting buat anak dan mental anak dibentuk dari keluarga sejak kecil nya.
Tinggal Meninggal ini memberikan pesan moral tentang penerimaan dan perhatian, kak. Kita sebagai orangtua memang harus memastikan anak kita mendapatkan cukup perhatian, kebersamaan, dan kepercayaan diri. Jangan sampai dia insecure seperti Gema, yang merasa baru "pantas" mendapatkan semua perhatian itu saat dia berduka.
ReplyDeletewalaupun di balut komedi, namun pesan moralnya kuat juga film Tinggal Meninggal ini ya mbak. Dan yang seperti ini yang kadang malah lebih gampang sampai pesannya di masyarakat
ReplyDeleteHaduh. Film Tinggal Meninggal ini beneran berasa kayak kasusnya Denada dan Ressa ya. Kasus begini mah bukannya nggak ada di sekitar kita. Cuma emang yang ketahuan aja yang nggak banyak
ReplyDelete