Pernah dapet kabar angin di tahun-tahun 2000an kalau area sekitar lingkungan rumah ku bakalan kena gusur buat pelebaran Jalan arteri di Bandung. Sampe-sampe kerabatku maju mundur mau renovasi rumah.
Dua puluh lima tahun berlalu ternyata kabar itu gak ada sama sekali kebenarannya. macam-macam lagi kabar batalnya. Salah satunya ada perubahan titik yang mengalami pelebaran.
Ingat Cerita itu sama sekali gak asing dengan kisah di film Modual Nekad 2. Disaat duit ganti rugi pembebasan lahan digadang-gadang Marwan besaudara untuk menutup segala kesulitan hidup malah buyar semua karena skema perubahan arah Jalan tol.
Betul kata pak ustadz di setiap kajian hidup jangan berharap sama manusia.
Menarik juga bagaimna film Modual Nekad 2 ini juga menguliti gaya hidup kajian zaman sekarang, yang terasa sekali lebih mengelukan tokoh nya ketimbang ilmu agamanya .
Menonton film modual nekad berbekal modal nekad 1 tangki komediku terasa penuh. Tidak ada plof sama sekali bahkan sequel ini terasa lebih padat secara cerita dan disempurnakan dengan konflik yang rapat.
Bagaimanapun menonton film sequel kita punya bahan untuk membandingkan satu sama lain. menariknya di film kedua ini Fatih Unru yang berperan sebagai Marwan mendapat porsi sebagai pemeran utama.
Tapi berbeda dengan season 1 yang mengambil sudut pandang Gading Marteen alias Saiful yang terjerat intrik dengan keluarga kecilnya akibat ekonomi sulit. Di film kedua ini Marwan mengambil spotlight lebih lebar.
Petualangan nya menemukan secarik foto bertulis kode rahasia mengantar Marwan menemukan sebuah bukti kuat kejahatan seorang tokoh political besar.
Yang menarik lagi adalah dialog-dialog nya yang segar dan related dengan situasi teranyar. Spoiler sedikit.. salah satu yang membuat saya menerka-nerka adalah dialog "pejabat memanggul karung beras". wah bagaimana bisa sarkas seterang-terangan itu bisa muncul dalam adegan.
Sementara barangkali produksi film ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum bencana Sumatra dan kelakuan-kelakuan politisi yang 'kocak' itu viral di masyarakat. Mungkinkah itu disisipkan dia meja editing agar terasa sangat realistis dengan situasi dan sifat oknum para pejabat umum nya. entah lah...









Post a Comment
Post a Comment